YOUTUBE

Nguri-nguri Tradisi Senandung Sholawat Burdah Khas Banyuwagi yang Kian Surut

$rows[judul]
(Foto : Seni tradisi Pembacaan Senandung Sholawat Burdah Warga Glagah/Lantaran.com)

Lantaran.com,Banyuwangi -Dalam rangka Nguri-nguri tradisi khas Osing Banyuwangi Jawa Timur, Pesinauan - Sekolah Adat Osing yang berada di Desa Oleh Sari, Kecamatan Glagah, menggelar acara kegiatan pembacaan Sholwat dengan melantunkan syair-syair sholawat Burdah, di Pesinauan Sekolah Adat Osing, Pada Rabu (10/07/2024) menjelang malam.

Sebelas orang bersarung batik dan berpeci hitam duduk bersila dalam formasi saling berhadapan. Sebagian besar dari mereka memegang gendung dan gembrung, alat musik sejenis rebana dalam ukuran besar dan sedang. Sambil memukul alat musik perkusi itu mereka melafalkan syair-syair puitis berbahasa Arab. 

Namun saat melafalkan syair itu mereka melantunkannya dengan irama gending-gending Osing Banyuwangi. Dalam beberapa bagian, gending-gending berbahasa Osing juga turut mengisi repertoar tradisional tersebut. 

Menurut Masruri F. Yudhistira, ketua pelaksana kegiatan dari Pesinauan, menyampaikan, Acara Seni tradisi tersebut dalam masyarakat Banyuwangi dikenal dengan nama Burdah, dimana Syair-syair yang dilantunkan dalam burdah bersumber dari kitab Al-Barzanji yang didalamnya terdapat teks Qasidah Burdah. 

Pertunjukan Burdah, meskipun hingga saat ini masih hidup tradisi pertunjukannya, namun bisa dikatakan amat jarang dan langka,"ujarnya.

Baca Lainnya :

Di sisi lain, menurut Masruri menerangkan, Seiring perkembangan zaman dan maraknya kesenian modern, kesenian Burdah yang dimainkan oleh kaum pria paruh baya tersebut nyaris tenggelam karena jarang diundang saat ada hajatan.

Kendati demikian, Masruri menegaskan dengan Hal itu secara tidak langsung mempengaruhi jumlah kelompok Burdah yang masih bertahan. 

"saat ini grup kesenian Burdah di Banyuwangi hanya tinggal satu grup saja yang bertahan, yaitu grup burdah Sekarwangi dari Dusun Mandaluko. Padahal sebelumnya terdapat setidaknya tiga grup burdah di Desa Kemiren, Dusun Mandaluko, dan Desa Jambesari,"tuturnya.

Kita tahu terjadi surutnya kesenian tradisi adalah fenomena yang jamak. Padahal seni tradisi merupakan warisan budaya yang menjadi objek pemajuan kebudayaan. Untuk itulah Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI pada tahun 2024 sedang menyelenggarakan program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan. Salah satu penerima Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan tersebut adalah lembaga Pesinauan Sekolah Adat Osing. 

"Komunitas budaya tersebut adalah satu-satunya sebagai penerima program pada tahun ini dari Kabupaten Banyuwangi, maka dari itu acara Pertunjukan Burdah yang berlangsung Rabu malam di Pesinauan adalah bagian dari pelaksanaan kegiatan yang bertajuk “Senandung Burdah - Menanam Warisan Merawat Kebudayaan,"jelasnya.

Selanjutnya, dalam rangkaian kegiatan itu terdiri : workshop, pertunjukan dan rekam audio visual seni Burdah,dan dimulai 18.00 WIB turut hadir yakni perwakilan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Kepala Desa Olehsari, dan Kepala Desa Glagah. 

"Tujuan kegiatan ini adalah bagian dari upaya preservasi seni tradisi Burdah yang mulai rentan, semoga dengan digelarnya kegiatan ini mampu menumbuhkan kecintaan terhadap Burdah sebagai warisan budaya dan sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni dan pemajuan kebudayaan,"pungkasnya.