Lantaran.com,Banyuwangi-Peringatan hari bersih-bersih sedunia atau World Cleanup Day (WCD) 2025 di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur digelar secara gotong royong. WCD tahun ini dipusatkan di Pantai Seranit, Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi, Jumat 19 September 2025.
WCD merupakan aksi sosial global tahunan yang mengajak masyarakat di seluruh dunia untuk turut membersihkan dan menjaga kebersihan bumi, yang bertujuan untuk mengurangi masalah limbah padat dan sampah laut. Acara ini berlangsung setelah ditambahkan ke dalam Kalender Hari Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Peringatan WCD 2025 diawali dengan apel bersama yang dipimpin langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani didampingi oleh jajaran TNI dan Polri.
Gerakan ini merupakan aksi gotong royong diikuti oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), KUB, Karang Taruna, pelajar, nelayan dan masyarakat umum. .
WCD 2025 juga diikuti oleh berbagai perwakilan Non Government Organization (NGO) lingkungan. Diantaranya dari Emvitrust, Yayasan Rijig Pradana Wetan, Eco Enzyme Nusantara, Osoji Club dan Sungai Watch.
Dalam sambutannya, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menekankan pentingnya aksi nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
"Hari ini kita tidak hanya membersihkan pantai, tetapi juga menanam harapan untuk masa depan yang lebih hijau dan sehat," ujar Bupati Ipuk.
Sebagai pembuka kegiatan, dilakukan penanaman pohon cemara laut di sepanjang garis Pantai Seranit. Pohon-pohon ini diharapkan menjadi benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari abrasi sekaligus memperindah lanskap pantai.
Penanaman pohon cemara laut tersebut dilakukan secara simbolis oleh Bupati Ipuk, Kapolresta, Dandim, Danlanal, Sekda, jajaran kepala dinas, tokoh masyarakat dan diikuti oleh peserta lainnya.
“Gerakan ini bukan sekedar seremonial saja, tapi harus berkelanjutan dan menjadi budaya bagi kita semua agar membuang sampah pada tempatnya dan menjaga lingkungan,” kata Ipuk.
Setelah tanam pohon, seluruh peserta bergerak serentak melakukan aksi bersih-bersih pantai, memungut sampah plastik, botol, dan limbah lainnya yang mencemari kawasan pesisir.
Suasana penuh antusiasme terlihat dari semangat para pelajar dan komunitas pemuda yang berlomba-lomba mengumpulkan sampah sambil menyuarakan pesan cinta lingkungan.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. World Cleanup Day bukan sekadar momentum tahunan, tetapi panggilan untuk terus menjaga bumi setiap hari.
Ipuk menyebut, Pantai Seranit merupakan area destinasi wisata yang cukup ramai dikunjungi wisatawan. Dengan menjaga kebersihan pantai bisa membuat para wisatawan nyaman dan betah berlama-lama. Sehingga otomatis ekonomi warga sekitar ikut terangkat.
“Melalui gerakan ini kami berharap masyarakat semakin sadar menjaga lingkungan di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Dwi Handayani menambahkan, gerakan bersih lingkungan ini sudah dimulai sejak 15 September dan akan terus berlanjut hingga 15 Oktober. Sementara aksi hari ini dilakukan serentak di Banyuwangi.
“Tentu untuk menuju Banyuwangi Hijau,” kata Dwi.
Dari aksi bersih-bersih di Pantai Seranit, mereka menghasilkan 328 kilogram sampah yang didominasi sampah anorganik yakni plastik. Sampah-sampah tersebut akan diangkut ke tempat pengelolaan sampah di TPS 3R Balak, Kecamatan Songgon untuk didaur ulang.
“Kami banyak menemukan sampah jenis styrofoam yang tidak bisa diolah sama sekali. Sampah jenis ini merupakan limbah residu yang sulit terurai. Jadi kami harap masyarakat lebih bijak lagi memilih kemasan makanan yang mungkin lebih bisa terurai dengan cepat,” ucap Yani.
Perwakilan Banyuwangi Hijau, Prasetyo Ibnu Toat yang menjadi inisiator gerakan ini mengatakan, jika ada sekitar 15-20 relawan yang dilibatkan. Selama kurang lebih sebulan pelaksanaan kegiatan ini, pihaknya menargetkan Banyuwangi bisa bersih dari sampah.
“Untuk mencapai target tersebut, keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan. Bukan hanya kami relawan persampahan. Karena setiap orang menghasilkan sampah, maka setiap orang harus bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan,” kata Deputi Program Manager Banyuwangi Hijau ini. (*)