"Petik laut mengajarkan bahwa keberhasilan dan kesejahteraan tidak bisa diraih sendiri. Semua harus dilakukan dengan kebersamaan, saling membantu, dan menjaga persaudaraan antar warga," ungkapnya.
Dia berharap generasi muda dapat terus menjaga dan melestarikan tradisi yang telah menjadi identitas masyarakat pesisir Banyuwangi tersebut. Selain memiliki nilai budaya dan spiritual, petik laut pantai Lampon juga berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.
Kehadiran wisatawan membawa berkah bagi pedagang, pelaku UMKM, hingga masyarakat sekitar.
"Banyak pedagang dan pelaku usaha kecil yang merasakan manfaat dari ramainya pengunjung saat petik laut berlangsung," jelas Suharsono.
Apresiasi terhadap pelaksanaan petik laut Lampon juga disampaikan Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Hartono. Dia menilai kekompakan masyarakat pantai Lampon menjadi kunci utama tetap lestarinya tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun tersebut.
"Kami sangat bangga kepada masyarakat nelayan pantai Lampon yang tetap guyub rukun menjaga dan melestarikan tradisi warisan leluhur ini. Semangat kebersamaan seperti inilah yang membuat budaya Banyuwangi tetap hidup dan berkembang hingga sekarang," kata Hartono.
Petik laut Lampon, lanjutnya, tidak hanya menjadi kekayaan budaya daerah, tetapi juga berpotensi menjadi magnet wisata yang mampu memperkuat citra Banyuwangi sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal.
"Saya optimistis tradisi Petik Laut Lampon akan terus lestari dan menjadi kebanggaan Banyuwangi untuk generasi-generasi mendatang," tandasnya. (*)