Untung kemudian mengajak peserta berpikir mengenai keterkaitan antara pemilu dan dunia usaha. Menurutnya, meskipun seorang pengusaha tidak dipilih melalui pemilu, keberhasilan dunia usaha sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang lahir dari proses demokrasi. Iklim investasi, pembangunan infrastruktur, kemudahan berusaha, hingga stabilitas ekonomi merupakan hasil kebijakan para pemimpin yang dipilih oleh rakyat.
Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat. Oleh karena itu, setiap suara masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan bangsa. Berbagai fasilitas publik, layanan pendidikan, kesehatan, hingga pembangunan daerah merupakan hasil dari kebijakan para pemimpin yang dipilih melalui pemilu.
"Mustahil menghasilkan pemimpin yang baik apabila proses pemilihannya tidak dilakukan dengan cara yang baik. Karena itu seluruh tahapan pemilu harus berlangsung secara jujur, adil, dan berintegritas," tegas Untung.
Menutup sesi materi, Untung menjelaskan bahwa pemilih pemula adalah warga negara Indonesia yang telah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah maupun pernah menikah sehingga memiliki hak untuk memberikan suara dalam pemilu. Ia mengajak seluruh siswa mempersiapkan diri menjadi pemilih yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab ketika telah memenuhi syarat sebagai pemilih pada Pemilu 2029.
Melalui kegiatan Konsolidasi Demokrasi ini, Bawaslu Kabupaten Banyuwangi berharap semakin banyak generasi muda yang memahami pentingnya demokrasi, memiliki kesadaran politik yang sehat, serta berpartisipasi aktif dalam mewujudkan pemilu yang jujur, adil, dan berintegritas.