“Perihal dampak ekologis, Petak 56 lebih mengkhawatirkan keadaannya. Meski berskala kecil, saya belum melihat adanya transformasi ekologis di sana. Cukup berbeda dengan PT BSI dengan reklamasi progresifnya,” katanya.
Wacana Pincang dan Hermeneutics of Suspicion
Haikal juga mengurai wacana pincang dan kritik sentimen yang kerap hadir dalam discours tambang. Meminjam istilah “Hermeneutics of Suspicion” milik Paul Ricoeur, epistemologi suatu wacana dapat ditafsir jika ada kecurigaan terhadap motif laten yang tak pernah diucapkan. Dalam konteks ini adalah illegal mining.
“Pro-Kontra itu wajar. Saya hanya berharap ada pembacaan yang mencari kemungkinan untuk transformasi, kesembuhan, dan rekonsiliasi terhadap alam. Bukan propaganda belaka,” harapnya.
Mengutip buku Symbolism of Evil (1967), ia menegaskan, “Kontra saja tidak cukup, apalagi pilah-pilih kontranya”. Dominasi wacana kritik kepada PT BSI yang cukup sepihak, menurut Haikal, mengindikasikan adanya sebuah kepentingan wacana.
“Meski memakai gaya yang cukup revolusioner, terkadang dosis doxa (dogma sosial) nya lebih tebal dari pada datanya. Ironisnya, yang justru melempar bola panas itu bukanlah warga lokal, tetapi lebih sering warga tak dikenal atau dari luar wilayah, dengan semboyan perlawanan,” kritik Haikal.
Menuju Narasi Alternatif dan Kritik Diri
Dalam konflik wacana tambang yang tak berkesudahan, baik yang berizin maupun yang ilegal, Haikal menyimpulkan bahwa wacana publik di Banyuwangi, sering terjerembab pada “The Long Journey Between Suspicion and Hope”. Menanggapi tudingan terhadap tulisannya, Haikal menepis santai.