YOUTUBE

Fenomena Petak 56 Pesanggaran Banyuwangi, Berikut Temuan Faktanya

$rows[judul]
Mahasin Haikal Amanullah, akademisi dan Lurah Mukadimah Institute, saat eksplorasi di Petak 56 Pesanggaran, Banyuwangi, Bersama Komite Mahasiswa Diaspora Banyuwangi.

“Tudingan seperti itu cukup wajar, dulu saat saya masih kuliah juga ahli dalam hal itu. Saya cukup dekat kok dengan istilah kekhilafan intelektual, dasarnya makek heuristik radikal. Nuduh dulu, belajar mikir kemudian,” cetusnya.

Mengutip Michel Foucault, ia mengingatkan bahwa setiap kehadiran wacana, termasuk wacana revolusioner (kritik tambang) sekalipun, juga mengandung relasi kuasa yang tersembunyi. Kritik hanya sah bila ia sanggup mengkritik dirinya sendiri, membersihkan bias, dan menghadirkan data konkret.

“Jika struktur wacana selama ini hanya dapat memecah-belah masyarakat lokal, apa bentuk narasi alternatif yang dapat memulihkan relasi sosial-ekologis di sana?. Jangan jadikan wilayah selatan Banyuwangi, sebagai simtom dari prahara ini,” pinta akademisi sekaligus Lurah Mukadimah Institute ini.

Pemuda asal Dusun Sukopuro Wetan, Desa Sukonatar, Kecamatan Srono, Banyuwangi ini menambahkan. Dari apa yang dia temukan dilapangan, warga lokal di Pesanggaran, merasa lelah dibenturkan dengan PT BSI yang kehadirannya banyak berkontribusi. Sementara itu, kebanyakan peniup wacana di poros berseberangan menghilang seiring konflik mencapai stadium akhir. 

“Itu pengakuan absah dari warga yang pernah menjadi korban wacana,” beber Haikal. (*)

Baca Lainnya :